• MTS TARBIYATUL BANIN WINONG
  • Madrasah Maju Bermutu Mendunia

“Setiap Orang Adalah Guru, Setiap Perjumpaan Adalah Pelajaran”

Saat ini kita hidup dalam peradaban yang titik beratnya adalah hal-hal kasat mata yang sifatnya materi. Seseorang dianggap alim karena terlihat pakaian yang dikenakan mendapat label dilihat dari berbusana-nya. Seseorang dianggap kaya, karena kita melihat barang-barang-barang yang ia kenakan atau kendaraan yang ia gunakan. Padahal secara substansi bukan itu yang seharusnya kita jadikan parameter. Alimnya seseorang adalah wilayah privat yang tidak bisa kita nilai secara kasat mata. Begitu juga dengan kayanya seseorang, tidak bisa kita pastikan ia adalah orang kaya hanya dari barang-barang yang ia miliki.

Setiap orang secara simultan, terus-menerus berproses mengajarkan dan melatih setiap individu untuk berpikir seimbang. Dalam hal apapun. Begitu juga dalam melihat dan menilai seseorang menjadi “Guru” bagi kehidupan kita, kita berlatih untuk mampu obyektif dalam menentukan.

Menafsir setiap orang pun bisa jadi guru yakni “Semua orang bisa menjadi guru dan semua orang memiliki pengetahuan, pengalaman hidup dan wawasan yang berbeda-beda dan bisa dibagikan satu dengan lainnya”. Setiap orang dapat memberikan inspirasi bagi orang lain untuk menemukan otensitas diri-sendiri, setiap orang pun dapat mendidik orang lain agar “tahu-diri” sekaligus “sadar-diri” sebagai manusia dengan segala masalah yang dihadapinya. Pengetahuan dan wawasan bagi setiap orang bagi orang lain, bukan tentang bahasa yang diindah-indahkan tetapi sebuah proses pendalaman pikir dan batin merespon realitas sosial.

Setiap orang yang menjadi guru bagi orang lain dapat menuturkan bahwa pengetahuan dan wawasan yang disampaikan adalah pengalaman perjalanan hidup yang telah dilalui. Guru yang dimaksud disini tidak lahir dari ruang hampa sosial, di atas meja dalam kamar sunyi, atau di atas ranjang yang empuk. Menjadi Guru disini adalah hasil pengalaman dan sebuah riset partisipatoris, yang mana, ia tidak hanya mengamati dari luar, tapi juga sekaligus hadir terlibat dalam peristiwa yang menjadi subyek dari pengalaman hidupnya.

Seorang Guru disini harus mampu membangun basis dan pondasi. Basis itu adalah kearifan lokal. Di sini, yang dimaksud kearifan lokal adalah nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi dan dalam ajaran agama serta rasa cinta. Mengutip kata bijak dan inspiratif dari Presiden ke-3 Indonesia, “Saya ingin jadi guru bangsanya Indonesia. Itu saja. Saya tidak ingin jadi yang lain. Yang memiliki rasa cinta pada murid. Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup”. Ungkap BJ Habibie. Begitulah setiap orang yang dapat menjadikan Guru bagi orang lain dengan segala kondisinya mempertemukan hamba-hamba Allah SWT satu sama lain, diperjalankan sesuai kehendak-Nya agar bisa bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Tak ada ikatan pamrih materi untuk melakukan sebuah kebaikan, semua dilakukan atas dasar cinta yang berakar pada rohman dan rahimnya Allah SWT.

Bagi saya, setiap orang yang menjadi Guru juga mengajarkan kita untuk menjadi manusia pembelajar. Karena tidak ada proses yang selesai begitu saja. Setiap pengetahuan yang ditemukan dalam aktivitas pembelajaran bukanlah pengetahuan yang sifatnya final. Sehingga, setiap orang selalu terlatih untuk menerima perbedaan, menerima berbagai pandangan yang dimiliki oleh orang lain. Tidak serta merta mengesampingkan kebenaran yang ditemukan oleh orang lain, karena kebenaran kita belum tentu yang paling benar, dan kebenaran orang lain juga belum tentu yang salah.

Seperti halnya: Hubungan antara guru dan murid seharusnya adalah hubungan relasi kesetaraan. Kehangatan dan kebersamaan dalam Pembelajaran. Rasulullah SAW mengajarkan itu, beliau tidak pernah menyebut orang-orang terdekat yang belajar kepada beliau sebagai murid, melainkan sebagai sahabat. Dengan menyebut idiom sahabat, maka tidak terdapat jarak yang begitu jauh antar individu. Meskipun demikian, para sahabat beliau juga pasti akan menyadari bahwa Rasulullah SAW adalah guru spiritual mereka, guru yang mengajarkan banyak sekali ilmu kepada mereka, tetapi, dengan idiom sahabat, hubungan yang terbangun adalah hubungan kemesraan, bukan hubungan bottom-up.

“Ilmu itu malu pada orang yang malu pada ilmu”. Ilmu sebagai sesuatu yang mulia artinya ilmu diibaratkan sebagai sesuatu yang memiliki “kehormatan”. Ia tidak akan mudah dimiliki atau diberikan kepada sembarang orang. Kemudian Orang yang malu pada ilmu maksudnya adalah orang yang enggan mencari ilmu, merasa gengsi bertanya, malas belajar, atau menyepelekan ilmu. Ia seakan-akan menunjukkan sikap tidak menghargai ilmu. Lebih lanjut Ilmu akan malu kembali. Jika seseorang bersikap demikian, maka “ilmu” pun tidak akan menghampiri atau melekat padanya. Artinya, orang tersebut tidak akan mendapat keberkahan dan manfaat ilmu, bahkan bisa jadi tidak akan diberi kesempatan untuk benar-benar memahami dan menguasainya.

Salah satu contoh dalam diskusi, saya berbincang dengan seorang pedagang, saya perhatikan saat dagangannya sepi ia selalu berdoa; “ya Allah cukupkanlah keluargaku” namun pada saat dagangannya ramai pun ia juga berdoa; “ya Allah cukupkanlah keluargaku”. Saya lalu bertanya mengapa demikian? Apa pasal harus berdoa minta dicukupkan?. “Karena kebahagiaan itu berawal dari hati yang merasa cukup”, pungkasnya. Ya Tuhan, betapa banyak orang yang berlimpah namun selalu merasa kurang, karena tidak ada rasa cukup di hatinya. Hikmah yang bisa dipetik dari pengalaman hidup ini ialah syukuri nikmat yang Tuhan berikan. Alhamdulillahhirabbil ‘alamin.

Lantas bagaimana kita mampu menentukan siapa Guru kita saat ini? Bahkan untuk sekedar menentukan seseorang layak untuk dihormati atau tidak, kita tidak benar-benar mampu.

Proses pencariannya butuh rasa dlamir ~ penentuan yang dirasakan pada hati nurani. Belajarlah memahami dengan hati nurani. Seorang Guru merupakan manifestasi dari aneka ragam karakteristik manusia. Dari materinya, berdasarkan kulit luarnya, identitasnya, profesinya, pakaian, madzabnya atau topeng kemegahan jasadiyahnya. Jangan lupa, semua itu hanyalah titipan dari sang pencipta. Dan berakhir sesuai masanya. Sekali lagi, Pahamilah dengan hati nurani.

Seorang Guru ini menitikberatkan pada proses pembelajaran secara terus-menerus. Sejatinya proses belajar itu berlangsung sepanjang hayat dimana saja, kapan saja dan oleh siapa saja. Siapapun bisa menjadi inspirasi dan menjadi guru bagi orang lain. Intinya seorang Guru adalah seseorang yang dari pengetahuan, pengalaman hidup dan wawasannya mampu menjadi teladan bagi orang lain.

 

Konstributor: Wahyu Habiyan Setiawan (Orang Maiyah_Kenduri Cinta)

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Membangun Pembelajaran Inovatif di Madrasah: Antara Tradisi dan Modernitas

“Tatkala pilihan sudah ditetapkan maka konsekuensi menjadi suatu keharusan”. Bagi seorang siswa, keputusan untuk menempuh pendidikan di madrasah atau pesantren merupakan ben

09/09/2025 10:50 - Oleh Administrator - Dilihat 297 kali
Saya Bangga Jadi Guru: Guru Berdaya, Indonesia Jaya

Hari Guru Nasional yang diperingati setiap tanggal 25 November menjadi momen refleksi bagi seluruh insan pendidikan, khususnya para guru. Tema "Guru Berdaya, Indonesia Jaya" yang diusun

25/11/2024 12:11 - Oleh Administrator - Dilihat 913 kali
Menyulam Benang Sejarah, Merajut Masa Depan: Memaknai Hari Santri 2024

SELAMAT HARI SANTRI....., Setiap tanggal 22 Oktober, Indonesia memperingati Hari Santri. Sebuah momentum untuk mengenang jasa para santri dalam memperjuangkan kemerdekaan, sekali

21/10/2024 09:40 - Oleh admin - Dilihat 247 kali